DepokBagus.com
Ragam Depok

Penunjukan RSUI Sebagai RS Rujukan Covid-19 Dinilai Bawa Perubahan Besar dalam Bisnis dan Pelayanan RSUI

DEPOKBAGUS.COM, Plt Direktur Utama Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) sebelumnya, Sukamto mengatakan penunjukan RSUI sebagai RS Rujukan Covid-19 tentunya membawa perubahan besar bagi RSUI dalam mengatur proses bisnis dan pengelolaan pelayanan.

Sukamto dalam keterangan tertulis yang diterima, Minggu (1/8) mengatakan langkah awal RSUI untuk meningkatkan kemampuan menjadi RS Rujukan adalah membuat mitigasi resiko yang baik. Manajemen mengidentifikasi setiap kebutuhan yang diperlukan dalam penanganan COVID-19 dengan detil.

“Kuncinya kita melakukan strategi perubahan kebijakan saat itu dengan melakukan mitigasi resiko yang benar baik pada tata laksana pelayanan, sistem penunjang, maupun manajemen informasi dalam memperkuat informasi internal dan eksternal,” katanya.

Dikatakan Sukamto, saat itu manajemen mengambil langkah untuk memetakan lebih awal pemenuhan kebutuhan, baik pada sumber daya manusia, peralatan seperti BMHP dan APD, serta penyediaan fasilitas sarana yang memadai untuk COVID-19.

“Selain itu, kami juga menyiapkan RAB (rencana anggaran belanja) untuk 3 bulan ke depan terkait COVID-19. Anggaran ini selanjutnya digunakan sebagai dasar kami untuk mengajukan dana alokasi kepada pemangku kebijakan penanganan COVID,” tandasnya.

Seperti diketahui, pada akhir bulan Desember 2019, muncul kasus pneumonia berat di Wuhan yang diikuti dengan peningkatkan jumlah penderita kasus pnemunonia yang kemudian dinamakan COVID-19 di berbagai negara.

Di Indonesia, COVID-19 mulai masuk di awal Maret 2020. Untuk menanggulangi pandemi COVID-19, Pemerintah Indonesia melakukan berbagai upaya, termasuk menyediakan rumah sakit khusus untuk menangani pasien COVID-19, tak terkecuali dengan Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI).

RSUI dipercaya sebagai rumah sakit jejaring pelayanan COVID-19 pada tanggal 19 Maret 2020 oleh pemerintah melalui surat edaran Kementerian Kesehatan RI dan sebagai rumah sakit rujukan penanggulangan penyakit infeksi emerging tertentu oleh Gubernur Provinsi Jawa Barat pada tanggal 13 April 2020.[]

Related posts